[Book] Paris Lumiere de l'Amour (Catatan Cinta Dari Negeri Eiffel)

Judul Buku : Paris Lumiere de l’Amour Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House (Mei 2009)
Halaman : 186 halaman
Peresensi : Anna R.Nawaning S
SAMPUL DEPAN alias COVER
Mungkin terkesan ‘tidak penting’ jika saya mengulas mengenai cover buku ini, tetapi penting atau tidak penting saya tetap akan menuliskannya ;-)
Kesan yang tersirat pada saat pertama kali melihat cover buku ini adalah mengingatkan ke-glamouran kota Paris dan Menara Eiffel nan termansyur di penjuru dunia. Siapa sih yang tidak mengenal kota pusat mode dunia ini? * pasti-nya ada aja yang nggak kenal, tetapi yang kita bahas disini adalah para pembaca yang hampir dipastikan berpengetahuan dan berwawasan luas.
Dengan warna sederhana namun terkesan elegan dan mahal, seperti warna salah satu serie Louise Vuitton yang kesannya sederhana namun harganya....bisa untuk menerbitkan beberapa buku secara indie ;-D
Menggambarkan seorang muslimah yang tekun membaca buku tebal di salah satu taman kota/universitas, sehingga saya berpikir bahwa isi buku tersebut adalah suka duka seorang muslimah yang sedang menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di Paris. Belajar keras di taman karena dikejar waktu supaya lulus segera dan tidak menghabiskan dana yang banyak – serta kantong cekak tidak terjangkau nongkrong di cafe – cafe yang banyak bertebaran di pinggir jalan.
Awalnya saya kurang menangkap judul pasti buku ini jika dikaitkan dengan isi tulisan buku. Ada beberapa kemungkinan sebab, diantaranya panjangnya judul buku dengan bahasa ‘blasteran’, serta menduga isi tulisan buku ini apakah tentang cinta, study atau dansa dansi ala negeri Napoleon....hhmmm atau memang saya yang telmi ya? hihihihi..
Don’t judge book by the cover (Biar seringkali sebelum membaca buku kita akan tertarik pada pandangan pertama terhadap cover buku tersebut, apalagi toko buku sekarang kebanyakan buku-nya disegel.)....makanya sekarang mari kita.......
BUKA BUKU
Perlahan, dengan sok imut seperti muslimah shalihah yang mejeng di cover-nya saya membuka buku terbitan LPPH ini. Oh ya, mengenai nama penulis buku ini, awalnya saya tidak familiar tetapi begitu mengerti bahwa muslimah manis ini memiliki nickname ‘sikrit’ di Multiply akhirnya saya lebih ‘mengenalnya’. Beberapa kali saya pernah blogwalking disana, namun belum sempat membaca banyak tulisannya. Tetapi Alhamdulillah, ternyata saya dapat membaca blog miliknya dari buku ini, karena memang sebagian (atau seluruhnya???) tulisan yang diterbitkan di buku ini merupakan catatan kehidupannya setelah penulis menikah dan tinggal di Paris, mengikuti suaminya yang asli buleleng...eh bule’ boo!
Di lembaran pengantar penulis sekilas mengisahkan awal kehidupannya yang mengantarkan penulis sampai ke kota nan romantis, Perancis dengan gratis (Maksudnya dibiayai oleh cowok Perancis nan romantis). Sebenarnya buku ini akan terasa keromantisannya apabila tulisan pengantarnya lebih panjang lagi, alangkah indahnya andai penulis bertutur mengenai kisah cinta dengan pria yang mencintai dan dicintainya hingga sang pria menemukan hidayah yang kedahsyatan nikmatnya melebihi keindahan Perancis. Atau penulis menambahkan di pengantar tulisannya apabila ada kiat khusus untuk menggaet pria Perancis yang dengan suksesnya (amieeen) menjadi mualaf (Walaaaahh...nanti malah jadi buku kiat mendapatkan jodoh deh! Heheheh..)
LARUT MEMBACA
Mulailah saya membaca. Seperti biasanya saya membaca buku dimulai dari bab pertama, teratur bab demi bab. Larut dalam isi bacaan tersebut. Barangkali ada yang berbeda dengan beberapa orang yang senang membaca buku yang berupa catatan secara lompat-lompat, tergantung dari bagian yang menarik.
Dalam buku ini saya menilai pengetahuan dan wawasan yang diberikan oleh penulisnya adalah hal yang menarik dan berguna bagi pembacanya, termasuk saya yang sudah pernah tinggal di luar Indonesia – termasuk Eropa, walaupun belum pernah menikah dengan penduduk aslinya...hehehe.
Hampir semua tulisan adalah berdasarkan pengalaman penulis selama menjalani kehidupannya di negeri Eiffel. Karena merupakan catatan cinta maka hampir semua-nya merupakan kisah yang manis, kisah manisnya keluarga kecil namun kaya budaya – budaya Indonesia, Perancis, dan Islam.
Jangan berharap menemukan kisah pilu orang Indonesia yang gelisah tinggal di luar negeri karena uang beasiswa pas-pasan atau sulitnya mengurus anak ‘sendirian’ dalam buku ini, karena penulis boleh dikatakan beruntung memiliki mertua orang asing yang tidak mempermasalahkan dititipi anak apabila penulis dan suaminya ingin bepergian menikmati keindahan kota. Secara perekonomian penulis juga termasuk beruntung karena telah memiliki apartment sendiri, walaupun memang bukan tipikal menghamburkan uang semena-mena. Hal ini dapat disimpulkan dari artikel berjudul ‘Mahalnya Harga Kunci’ (halaman 89) dimana penulis sempat miris karena untuk membuka kunci pintu tempat tinggal-nya diperlukan uang dengan selisih tipis dengan harga tiket Jakarta – Paris pulang pergi.
Membaca kisah – kisah di buku ini seakan menjadi oase bagi pembaca-pembaca di Indonesia yang belakangan ini disuguhi oleh kisah tragis Manohara yang menikah dengan orang asing kaya raya yang konon dianiaya atau kisah para TKI yang disiksa majikannya. Dimana menurut berita yang sering kita dengar atau baca, pihak KBRI seakan tiada peduli dengan kepedihan mereka yang dizhalimi oleh penduduk setempat. Sedangkan kisah dalam buku ini justru kebalikannya, yakni sang suami penduduk asli nan baik hati justru seringkali dititipi makanan yang penulis ingini di KBRI saat sang suami shalat Jum’at (Menebus Rindu di KBRI, halaman 6). Berani jamin, pasti penulis menitip dibelikan makanan di KBRI tanpa menitipi uang...hehehe...
Artikel ‘Belanja Halal, Yuuk...!’ (halaman 121) informasi-nya sangat bermanfaat. Khususnya mengenai kode matematis. Saya pribadi termasuk orang yang tidak telaten dalam mengamati hal ini, tetapi sekarang saya mencatat kode matematis yang terdapat di buku ini dan juga mengecek web address yang tercantum pada artikel tersebut.
Dibeberapa bagian bab 5 ‘Saat Muslim Bukan Mayoritas’ terdapat ‘keluhan’ penulis terhadap khotbah yang menggunakan bahasa Arab. Artikel ini mengingatkan saya ketika saya menjadi Liason Officer sebuah acara akbar ilmuwan Islam yang diikuti partisipan lebih dari 100 negara. Ketika itu salah satu anggota delegasi (kalau tidak salah ingat berasal dari Jepang) menanyakan sesuatu kepada saya dengan menggunakan bahasa Arab. Ketika saya dan teman mengatakan bahwa kami tidak dapat berbahasa Arab mereka langsung keheranan. Mereka mengatakan bagaimana kami dapat menjalankan ibadah apabila kami tidak dapat berbahasa Arab, bukankah shalat dan bacaan Al Qur’an yang kita baca dan harus diaplikasikan dalam kehidupan ini semuanya menggunakan bahasa Arab? Nah lo...benar juga ya?? Kenapa kita orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam justru merasa lebih keren ber-cas cis cus dengan bahasa asing lain, sedangkan Pat, suami penulis yang sudah jelas memiliki bahasa (konon) ‘seksi’ dan bahasa-nya aristokrat justru belajar bahasa Arab agar lebih mudah memperdalam Islam. Top banget deh! (‘Kursus Bahasa Arabnya Pat’, halaman 167)
PENUTUP
Yup, banyak yang bisa dipetik dari buku ini – tidak hanya pengetahuan dan wawasan tentang Paris, melainkan juga mengenai pranata sosial dan kebudayaan orang Perancis dalam menjalankan ajaran Islam di negerinya sendiri (Dalam hal ini khususnya mengenai beberapa kisah Patrick Monlouis, mualaf Perancis is istri penulis ;-D). Pembaca dapat mengambil hikmahnya dari aneka kisah yang ditulis secara singkat dan lugas.
Buku ini memang bukan buku sastra yang menggunakan bahasa yang mendayu-dayu penuh keromantisan, walaupun ditulis di Perancis. Namun alangkah sempurnanya jikalau penulis gemar mengamati dan menuliskan tentang dunia mode di Perancis. Bukankah Paris merupakan salah satu pusat mode dunia???? Dalam buku ini sama sekali tidak disinggung kisah bagaimana penulis atau kerabat muslim/mah-nya jika berbelanja produk fashion di butik atau department store yang ada di kota mode dunia tersebut. Atau menuliskan mengenai pandangan masyarakat Perancis terhadap mode busana muslimah. Sekalian promosi ke masyarakat Paris kalau Indonesia juga merupakan pusat mode dunia gituh....setidaknya pusat mode busana muslimah ;-)

