The Sky is Crazy




Judul : The Sky is Crazy, Kisah Kisah Gokil Dari Dalam Perut Pesawat
Penulis : Yvonne Lee
Penerbit : Gradien Mediatama (Indonesia, 2009)

Terus terang, saat ingin membeli buku ini saya merasa bimbang. Thema tulisannya sudah dipastikan saya sangat teramat suka karena dunia penerbangan merupakan ‘passion’ saya , namun profesi pramugari saat berada dalam tugas bukan merupakan minat saya – bahkan diiming-imingi gaji tinggi-pun saya ogah deh! (Hiiii...lagi maskapai mana yang mau ngegaji loe tinggi untuk jadi pramugari? Bisa2 tuh maskapai bubar seperti Adam Air setelah sebelumnya menukik ke laut....Gue pantesnya emang jadi pilot dah! ;-D)
Do you know why I bimbang waktu ingin membeli buku ini di Gramedia Matraman Jakarta Timur????!! Yaitu karena faktor bahasa-nya. Ditulis dengan menggunakan bahasa Malaysia euy! Puyeng gak tuh?! Kenapa nggak sekalian ditulis pakai huruf Jawa kuno aja seh? ;-( Yaaa, karena penulisnya adalah mantan pramugari sebuah maskapai penerbangan international yang telah mengunjungi lebih dari 50 kota di dunia (Sepertinya terlalu “sedikit” kota yang dikunjungi-nya, mengingat profesinya konon bisa keliling dunia, sedangkan kota yang daku kunjungi saja lebih dari 50. Indonesia aja memiliki kota lebih dari 50. Entahlah kriteria kota termasuk kabupaten atau kotamadya...atau kecamatan atau suburb. Ah usah dibahas dah!).
Yvonne Lee telah banyak menuliskan pengalamannya di majalah dan surat kabar, dan buku ‘The Sky is Crazy, Kisah Kisah Gokil Dari Dalam Perut Pesawat’ merupakan kumpulan pengalamannya selama menjadi pramugari yang menjadi bestseller di Malaysia. Pertama di tulis dalam bahasa Inggris dengan judul : The sky is crazy : Tales From a Trolley Dolly tahun 2005 Marshall Cavendish (Malaysia) Sdn Bhd (General and Reference Publishing).
Saya pribadi merasa lebih nyaman andai buku ini ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, namun ‘catatan penerbit’ menjelaskan bahwa faktor bahasa turut memberi kontribusi yang cukup tinggi untuk menambah keceriaan bacaan ini. Maka, kami mengusahakan penyuntingan/penerjemahan yang seminim mungkin.(halaman 6)
Sebenarnya bukunya nggak ‘gila2 amat’, justru asyik banget membaca pengalaman Yvonne yang ditemui saat bertugas, bahkan Yvonne menuliskan pengalamannya tidak saja saat di udara. Dia juga menuliskan pengalaman selama berada di ground, selama itu berkaitan dengan pekerjaannya sebagai pramugari.
Justru satu hal yang membuat saya tertawa saat membaca-nya pada bagian ‘Pandangan Sebenar’ (Barangkali bahasa Indonesia-nya : Prolog atau pengantar?) yakni saat Yvonne didorong dari belakang untuk terjun dari pintu pesawat terbang pada saat simulasi atau latihan evakuasi kecelakaan. Dia sangat takut sekali dan “protes” dalam tulisannya : “Beberapa bulan sebelumnya, saya telah memohon jawatan pramugari yang diiklankan, dengan harapan setinggi gunung dapat mengelilingi dunia sambil melayan penumpang dengan senyuman mesra. Iklan tersebut mengatakan, para calon mestilah mempunyai perwatakan peramah, mempunyai kulit muka yang sihat paras rupa yang menarik, dan senyuman yang menawan. Iklan tersebut tidak menyatakan bahawa saya perlu terjun keluar dari kapal terbang!”
Yap, benar sekali tuh, Mbak Yvonne, itu merupakan input bagi para maskapai penerbangan yang membuat iklan lowongan kerja agar mereka menambahkan pada syaratnya. Selain penampilan menarik, ramah, kulit dan gigi bersih dan sehat serta mengenakan kemeja lengan pendek dan rok 5 cm diatas lutut – bersepatu hak tinggi, maka perlu ditambahkan : HARUS BERANI TERJUN DARI PINTU PESAWAT TERBANG DALAM KEADAAN DARURAT DENGAN MENGUTAMAKAN KESELAMATAN PENUMPANG TERLEBIH DAHULU.
Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca para cewek yang berminat menjadi pramugari, khususnya pramugari penerbangan international. Paling nggak agar tidak kaget menghadapi pelancong yang menggunakan jasa maskapai penerbangan. Banyak pekerjaan yang juga menghadapi banyak karakter manusia, antara lain : customer service, interviewer, reporter, wartawan, public relation, field researcher, hingga pedagang. Namun menghadapi dalam masa waktu yang cukup lama, beberapa jam bahkan melintasi antar benua barangkali itu hanya tugas pramugari maskapai international.
Dari buku ini terjawab pula pertanyaan beberapa tahun yang baru terjawab setelah membaca buku ini, tentang ‘having sex’ di udara. Terjawab setelah membaca di bagian 16 : ‘Awas! Coli melayang!’. Ternyata benar, berita mengenai maskapai penerbangan yang menyediakan kabin yang ada tempat tidurnya untuk melakukan ‘having sex’. Tetapi kalau soal A380 yang dirilis 2 tahun lalu gimana yak? Yang jelas, saya sangat berminat menikmati pelayanan firstclass A380 bukan karena ingin melakukan hal tersebut. Ehmm...biar fetish-nya barangkali berbeda ;-p
Andai tidak tertarik menjadi pramugari, tidak ada larangan juga kok membaca buku ini. Saya merasa buku ini berbeda dengan buku traveling yang saat ini banyak beredar di Indonesia. Ada beberapa buku tentang pengalamana pekerjaan pramugari dan dunianya, antara lain ditulis oleh penulis senior yang juga mantan pramugari, NH Dini. Namun Ibunda NH Dini menuliskannya dalam kemasan fiksi dan menyambung. Sedangkan Yvonne memang khusus menuliskan kisah-kisah pendek, sehingga pembaca dapat membaca dengan melompat-lompat dijeda kegiatan atau sambil menanti penerbangan di ruang tunggu bandara. Barangkali saja kisah yang baru kita baca ternyata kita temukan juga dalam penerbangan tersebut....(Review by Anna R.Nawaning S)

Postingan Populer